Kemarin, hari selasa tanggal 5 Juli 2011. Ulama besar Indonesia KH. Zainuddinn MZ wafat, menemui sang penciptanya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun, beliau wafat diumurnya yag ke-59. Isak tangis yang memenuhi rumahnya, ulama-ulama besar ikut berta’jiah kerumah da’I kondang sejuta umat ini. Begitu banyak jamaah yang menyolatinya, mendoakannya, dan ikut menguburkannya. Bahkan untuk mengangkat kerandanya banyak yang berebutan ingin ikut andil dalam moment terakhirnya itu. Bahkan keluarga tercintanya tak henti-hentinya mencium kening almarhum dai kondang ini.
Acara pengataran jenazah ke masjid pun harus terlebih dahulu membelah lautan manusia yang ingin menyaksikan dan mengantar kepergian orag yang selama ini menjadi panutan kaum muslimin di Indonesia. Bahkan H. Rhoma Irama pun tak henti-hentinya meneteskan air mata duka saat memberikan kalimat-kalimat terakhir sebelum jenazah di sholati.
Saat jenazah dimakamkan, langit seakan turut serta kehilangan orang besar ini. Langit mendung dan tak lama meneteskan air yang membasahi bumi. Subhanallah… sebuah tanda sang Murabbi menghadap Illahi.
Ustadz Jefri Al Bukhori yang sering disebut UJ bertutur bahwasanya kita kaum muslimin sedang berduka dengan berpulangnya macan da’i ke hadapan sang Illahi. Ustad Al Habsyi juga bertutur tentang beliau “Beliau adalah seorang ulama besar, seorang ayah bagi kita semua, seseorang yang bisa dijadikan panutan kaum muslimin di seluruh dunia”.
Teringat sebuah pesan yang disampaikan oleh guru entrepreneur saya, beliau bertutur tentang sebuah kehidupan yang singkat dan berharga ini. Ketika kita nanti mati dan menghadap sang Khaliq, mau dikenang sebagai apa kita? Apa yang ingin kita dengar dari orang-orang yang mencintai kita. Apakah anak kita berkata “Ayah adalah orang yang hebat, bertanggung jawab. Seorang yang menyenangkan bagi kami, selalu ada jika kami membutuhkan beliau…”, atau mungkin kita ingin mendengar dari istri “Beliau adalah seorang suami yang tau akan kondisi keluarganya, seorang suami yang selalu bisa membuat kami bahagia….”. temen-temen kita mungkin “Beliau adalah seorang yang baik, rendah hati, selalu menolong kami-kami jika kami membutuhkan pertolongan”. “Beliau adalah sosok yang bisa dijadikan panutan bagi orang-orang disekelilingnya, sosok yang santun kepada orang yang lebih tua, pantas saja jika banyak orang yang kehilangan beliau dan menangisi kepergiannya”.
Sahabat… jika langitpun menangisi kepergian KH. Zainuddin MZ, apalagi dengan istrinya, anak-anaknya, keluarganya, sahabat-sahabatnya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun, semuanya yang bernyawa pasti akan mengalami mati dan kembali padaNya.
Mau kondisi yang seperti apakah jika kita meninggal nanti? Apakah ingin seperti macan da’I sejuta umat, ataukah ingin seperti yang lain?
Wallahua’lam….
Ya allah ya robbi,mengenang 40 hari kepergian guru kita tercinta kh zainudin mz,rasanya terpukul sekali,apalg melihat ayah h,roma irama menangis saat menyanyi mengenang kh zainudin mz,air mata ini tak kuat q menahannya,ya allah kuatkanlah hati kami org2 yg di tinggalkannya,.
Semoga keberkahan dari almarhum melimpah juga ke kita semua yang turut kehilangan sosok yang didambakan syurga. Wallahua’lam.