Suatu malam ketika sedang asik menonton tv, saya dikejutkan dengan suara handphone di samping saya. Ternyata ada sms dari sahabat saya, rima namanya. Beliau bercerita tentang pedagang susu keliling yang hampir tiap sore melewati depan rumahnya di daerah sindang laut kabupaten Cirebon. Sosok pedagang yang bersahaja, dengan pakaian seadanya jaket dan topi lusuh yang digunakan sebagai pelindung panas matahari. pedagang itupun setia menggoes sepedanya dan menjajakan dagangannya ke rumah-rumah penduduk termasuk rumah yang dihuni sahabatku itu. Box belakang sepedanya ia gunakan sebagai tempet susu-susu yang ia peroleh dari rumah produksi.
Di sore hari tepatnya bada ashar, ada seorang anak kecil yang menangis tiada henti di halaman samping rumah sahabat saya. Tangisan umur anak 3 tahun itu nampaknya semakin kencang, entah karena sebab apa sampai-sampai anak kecil itu menangis kencang seperti itu. Tidak beberapa lama seorang pedagang susu keliling itu melewati halaman dimana anak kecil itu menangis tersedu-sedu.
Merasa iba bapak yang sudah berkepala tiga itupun menghampiri anak kecil yang menagis. Bukannya menjawab anak kecil itupun makin menangis kencang, mungkin karena merasa ada yang memperhatikan seperti kebayakan anak kecil yang membutuhkan perhatian dari orang-orang disekelilingnya.
Tanpa berfikir banyak, pedagang itu bangkit dan membuka box dagannya dan mengambil beberapa susu yang masih belum terjual. Dengan tulus bapak itupun memberikan susu segar kepada anak kecil yang menangis, walaupun dengan wajah yang masih bingung anak kecil itu berhenti menangis dan menerima pemberian pedagang susu tersebut. Kemudian pedagang itupun tersenyum dan melanjutkan aktifitasnya menjajakan susu ke desa-desa.
Dari jauh sahabat saya memperhatikan sebuah pemandangan yang luar biasa. Pemandangan yang jarang sekali terjadi di zaman sekarang ini, zaman yang sudah tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, halal dan haram kini sudah menjadi potret buram, idealisme hanya menjadi sebuah wacana dan perbincangan para politikus yang ingin berebut kursi pemerintahan.
Sahabat… kita bisa belajar dari bapak penjual susu keliling itu, berbuat baik dan beramal tidak usah menunggu waktu yang tepat, dimana kita dibutuhkan maka itulah waktu yang tepat. Untuk beramal tidak mesti harus kaya atau berada dulu, pedagang susu itu yang mungkin untuk kebutuhan sehari-harinya saja kurang bisa memberikan sedikit rizqinya untuk anak kecil yang entah anak siapa dia.
Subhanallah…. Semoga semakin banyak tangan-tangan yang lain seperti tangan bapak pedagang susu keliling itu, dan semoga bapak itu diberikan kelancaran rizqi oleh Allah SWT. Aminn…
Terima kasih sahabat.
Subhanallah, ad jg orang yg bae d zaman skr, moga tertular am kita….amin
alhamdulillah, saya mendapatkan hikmah disini.
memang pelajaran tidak hanya didapat di ruang2 kampus saja.
bagi kita seorang pembelajar , rasanya kalimat dibawah ini tepat dihadirkan disini.
“jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru.”
dan kisah penjual susu keliling adalah sebuah realita yang menjadi bukti.
salam kenal, Tetap Semangat dan Sukses!!
Terimakasih sebelumnya sudah mampir ke halaman yang baru saya buka ini, ketika kehidupan kampus berakhir rasanya semangat menulis ini hilang.
terlalu disibukan dengan kerjaan.
tidak hanya orang lain, ketika ada orang yang mendapatkan hikmah dari setiap tulisan saya, rasanya saya pun mendapatkan hikmah. alhamdulillah.
kalimat anda sungguh luar biasa.
“jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru.”
mari kita belajar kehidupan dari guru-guru yang tak pernah duga sebelumnya. pasti bermanfaat.
salam kenal juga. Jazakallah..